Keas baru saja menanda tangani kontrak kerja sama dengan seorang investor dari negara tetangga. Mereka berjabat tangan di iringi tepuk tangan para kolega yang diundang pada acara tersebut. Acara pun dilanjutkan dengan makan bersama. Aneka masakan yang tersedia sepertinya lezat dan menggugah selera. Semua orang kelihatan gembira. Mereka berbincang-bincang satu dengan yang lain. Ada yang terlihat santai dengan tawa dan canda disela-sela perbincangan mereka, ada juga yang kelihatan begitu serius.
“Saya optimis bisnis kita ini akan maju dan mendatangkan keuntungan besar” Keas menyampaikan rasa optimisnya kepada rekan bisnisnya Datuk Moktar yang berasal dari Singapura.
“Ya, tentu saja. Laba dua kali lipat akan kita peroleh. Keuntungan dari pembuangan limbah dan keuntungan dari penjualan pupuk. Tinggal di kemas dan diberi label dengan baik.” jawab Datuk Moktar. “Tapi itu kalau semua urusan-urusan legalisasi eksport-inport juga berjalan dengan baik.” Lanjutnya.
“Datuk jangan kwatir soal perizinan dan surat-surat lainnya, semua bisa di atur. Selagi mata orang masih hijau liat duit, maka urusan-urusan itu akan gampang.”
“Ya, saya percaya datuk Keas bisa mengaturnya dengan baik..”
Tak jauh dari Keas, seorang pengawal Keas menerima telepon dari seseorang. Ia tampak serius menjawab telepon sambil tetap mengawasi sang boss. Sepertinya ada persoalan penting yang terjadi disana. Max sang pengawal mendekati Keas hendak membisikkan masalah yang tadi dia bicarakan di telepon. Keas sedikit tersentak, ketika Max yang gagah ini membisikkan sesuatu kepadanya. Namun cepat-cepat ia menguasai diri mengingat ia sekarang sedang berada dalam acara khusus dimana ada investor dan para kolega dan orang-orang penting lainnya disitu. Keas pun berusaha tersenyum walaupun dengan senyum yang dipaksakan.
Keas memang tergolong seorang pengusaha yang sukses. Ia telah memiliki beberapa perusahaan yang cukup besar. Walaupun beberapa usaha yang dimilikinya termasuk ilegal karena bertentangan dengan hukum dan norma masyarakat. Tempat perjudian dan barak prostitusi adalah beberapa diantaranya. Namun usaha-usaha ilegal inilah yang menghantarkannya menjadi pengusaha sukses seperti sekarang ini. Usaha ilegal bukan berarti tidak aman. Buktinya usaha Keas ini lancar-lancar saja.
Acara makan sudah selesai. Sebentar lagi acara hiburan akan digelar. Namun Keas dan Datuk Moktar sudah sepakat akan pulang terlebih dahulu, mengingat kesibukan masing-masing. Lagi pula Datuk Moktar harus kembali ke negaranya sore ini.
Cepat-cepat Keas meraih handphone Max. Sambil berjalan ke arah mercynya, ia menekan nomor-nomor di hpnya.
“Jonny, ada apa ?” Tanya Keas penasaran kepada orang yang dihubunginya. Dengan seksama ia mendengar Jonny berbicara diseberang.
“Di barak Melati ada oknum yang meminta uang keamanan, boss. ” Jawab Jonny.
“Sepertinya dia orang baru dan lumayan nekad, boss, soalnya saya sudah beritahu sama dia tentang sistem keamanan kita disini, tapi ia ngotot mau ketemu dengan boss selaku pemilik tempat ini.” Lanjut Jonny.
Mimik wajahnya berubah, ia mengernyitkan dahinya. Kumisnya yang tebal semakin memberikan gambaran sangar pada wajahnya.
“Okey, kalau begitu suruh aja dia datang besok siang jam 11.00, saya akan bertemu dia disana. Dan jangan lupa kamu tanya namanya lalu beritahu saya” Keas mengakhiri pembicaraannya dengan Jonny dengan perasaan sedikit kesal.
“Ada apa sebenarnya, boss? Tanya Max..
“Ada orang yang kurang ajar, dia meminta uang keamanan di barak yang diawasi Jonny. Jonny sudah beri penjelasan tentang sistem keamanan kita, tapi katanya ia tidak perduli”. “It’s ok, biar saya urus sendiri. Mungkin dia orang baru jadi belum tahu saya”
Mengherankan memang, kalau ada oknum yang belum mengenal Keas. Selain pengusaha ternama, ia juga seorang anggota legislative di daerahnya. Ia terlibat di sebuah partai besar dan beberapa LSM yang di dirikannya. Bahkan tak jarang ia muncul di koran-koran daerah, baik itu dalam kapasitasnya sebagai pengusaha, legislative maupun sebagai orang LSM menjadikan ia dikenal banyak orang. Dari orang besar sampai orang kecil, dari wong cilik sampai wong licik mengenal dia. Hanya saja wong cilik mengenal dia sebagai sosok pribadi yang baik dan yang membela orang-orang kecil dan orang yang terlantar sedang wong licik mengenal dia sebagai sosok pribadi yang sama dengan mereka, licik.
***
Pukul 11.00 siang. Seperti yang telah dijanjikan oleh Keas kepada oknum itu, ia sudah berada disana sejak lima belas menit sebelumnya. Rokok yang di apit dua jarinya merupakan batang ke 5 semenjak ia tiba di sana. Tentu saja banyaknya batang rokok yang telah di sulutnya bukan karena ia gugup menunggu oknum yang dimaksud, melainkan karena ia memang seorang perokok berat.
Setengah jam kemudian berlalu, namun orang yang di tunggu-tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya yang pesek. Sedang hidung Keas yang agak mancung sesekali kembang kempis mengikuti irama giginya yang bergesekan dan kumisnya yang menari . Tampak sekali ada kekesalan dalam dirinya.
“Kamu katakan jam berapa dia datang ?“ Tanya Keas pada Jonny.
“Tentu saja seperti yang boss katakan jam 11.00 siang”
“ T’rus mana orangnya ?”
Jonny tidak menjawab. Ia hanya tertunduk. Ia tahu bahwa pertanyaan itu tidak butuh jawaban. Pertanyaan itu hanya merupakan wujud kekesalan sang boss.
“Bisa saja dia tidak berani datang, boss” si Max mencoba memecah keheningan yang terjadi. “Bukankah kemarin boss telah menelopon orang-orang penting di lingkungan yang diperkirakan tempat si oknum itu bekerja?” lanjutnya.
“Ya, bisa jadi begitu, boss.” Timpal Jonny. “Mungkin atasannya sudah bicara dengan dia”
“Ya sudah, ayo Max kita kembali ke kantor” Keas mengajak Max si pengawal yang merangkap supir itu kembali ke kantornya
***
Setibanya di kantor, ternyata disana sudah ada tiga orang yang sedang menunggu Keas. Ketika Keas memasuki ruangan lobby ketiga orang itu berdiri dari sofa yang mereka duduki.
“Selamat siang, boss” Sapa ketiganya hampir bersamaan.
“Ya, selamat siang. Sudah lama menunggu ?”
“Belum terlalu lama, boss” Jawab salah seorang dari mereka, orang yang tinggi besar lengkap dengan stelan jas dan dasi.
“Kita makan siang dulu atau…”
“Saya kira tidak usah, boss. Kami hanya mau melaporkan tugas-tugas yang telah kami jalankan sejauh ini.” Kata orang yang berperawakan agak pendek.
“Baiklah, kita ke ruangan saya aja.”
Mereka berjalan menuju ruangan Keas. Sebuah ruangan yang cukup besar dan terkesan mewah. Ruangan ini dilengkapi dengan kursi tamu yang bagus, lemari buku dan lapangan kecil untuk latihan memasukkan bola golf. Beberapa lukisan karya pelukis ternama juga menghiasi dinding ruangan ini, sedangkan dua buah patung keramik cina kuno mengapit meja kerjanya.
“Jadi bagaimana, semua berjalan dengan baik ?’ Tanya Keas kepada ketiga orang itu setelah dipersilahkan duduk.
“Ya, sejauh ini berjalan dengan baik, boss. Sebagai team sukses tentu kami akan berusaha semaksimal mungkin supaya pencalonan boss menjadi gubernur tidak terkendala.” Orang yang tinggi besar itu menjawab Keas.
“Kami sudah mempersiapkan jadwal kunjungan boss kerumah sakit, ke penjara, ke panti asuhan dan panti jompo Dan setiap kunjungan itu akan di beritakan di tiga harian yang berbeda.” Yang perawakannya pendek mengawali laporannya. “Ini adalah salah satu cara untuk terus mempopulerkan bapak kepada masyarakat luas.” Lanjutnya.
“Kami juga telah memprogramkan beberapa acara yang melibatkan beberapa LSM, baik itu LSM kita maupun LSM yang cukup dekat dengan kita. Acara itu berupa silaturahmi, syukuran ultah LSM dan bentuk acara lainnya.” Orang ketiga yang agak kurusan tapi berkumis tebal juga memberikan laporannya. “Kami juga sudah menganggarkan dana awal sebesar kira-kira Rp. 10.000.000,- untuk ikut poling calon gubernur di media cetak dan kira-kira Rp. 6.000.000,- untuk poling SMS dukung-mendukung calon gubernur.” Lanjutnya penuh semangat.
“Saat ini kita juga sudah mengadakan pendekatan kepada beberapa pengurus teras partai-partai. Pertemuan yang lebih intensif akan kita adakan dengan mereka.” Sambung orang yang berdasi.
“Bagus, bagus. Sejauh ini pekerjaan kalian cukup memuaskan.” Puji Keas dengan bangga. “Teruslah bekerja keras. Usaha keras kalian akan menjadi catatan penting bagi saya..” lanjutnya.
“Baiklah boss, kalau begitu kami permisi dulu.” Yang pakai stelan jas mengakhiri.
“Baik. Selamat bekerja” Keas mengantar mereka sampai ke depan pintu kantornya.
Keas sangat berambisi untuk menjadi gubernur. Jabatannya sebagai seorang anggota legislative daerah sekarang ini belum dapat menjadi kepuasan baginya. Posisi gubernur menjadi incarannya, bahkan di dalam benaknya terbersit keinginan ikut bertarung merebut kursi presiden di masa yang akan datang.
Keas memang sudah terbilang sukses, baik di bidang usaha maupun di bidang politik. Tapi tidak banyak orang tahu, bahwa Keas memulai karirnya dari bawah. Ia memulai dari seorang preman kampung. Ya, dia memang dulunya seorang preman kampung. Dengan bermodalkan tato dan badannya yang besar, ia sering memalak orang-orang kecil. Mulai dari pedagang kaki lima di pasar tradisional di daerahnya, pedagang ikan keliling, pedagang es keliling bahkan juga sipenjual rokok tentengan di pasar dan pertigaan di palaknya.
Kemudian ia pindah kota dan meneruskan karirnya sebagai preman. Dari preman kampung menjadi preman kota. Menjadi preman kota pun Keas masih suka memalak orang-orang kecil. Pedagang bakso keliling mapun pedagang kecil lainnya Boleh dikata Keas hampir tidak pernah mengeluarkan dana untuk kebutuhan makannya sehari-hari.
Berprofesi sebagai preman kota memang tidak selalu mulus juga. Kadang kala ia bertemu dengan pedagang yang ternyata punya saudara seorang aparat kepolisian atau tentara atau setidaknya punya kenalan dekat dengan seseorang yang cukup disegani. Sehingga si pedagang berani untuk menolak ketika ia dipalak. Tapi kebanyakan orang tidak berani untuk menolak apalagi untuk melawannya. Entah mengapa banyak orang tidak berani melawan, pun tidak berani melapor kepada aparat keamanan. Bisa jadi mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, atau bisa juga karena merasa bahwa penegakan hukum masih berada diantara mimpi dan kenyataan.
Bertahun-tahun menjadi preman di kota ternyata memberikan peluang bagus bagi Keas. Semakin lama dia semakin di akui dikalangan preman. Dia mempunyai banyak anak buah. Dia tinggal menerima laporan sekaligus setoran dari anak buahnya. Kegiatan anak buahnya pun tidak lagi sebatas memalak tetapi juga menjadi penjaga keamanan tempat hiburan malam, barak prostitusi dan tempat perjudian. Dia sendiripun akhirnya memiliki barak prostitusi dan tempat perjudian.
Keberhasilannya di bidang premanisme, usaha barak dan tempat perjudian inilah yang menjadi modal awal bagi Keas mendirikan usaha-usaha resmi. Ada perusahaan supplier, developer, kontraktor dan terakhir perusahaan di bidang ekspor-inpor yang bekerja sama dengan investor asing.
Keas memang sangat pandai mengambil setiap kesempatan. Ketika undang-undang telah memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk membentuk partai dan berorganisasi, banyak partai baru yang muncul. Ia pun menjadi ketua wilayah salah satu partai baru itu. Partai baru ini kemudian menjadi salah satu partai besar. Selain memasuki partai, Keas juga mendirikan beberapa LSM yang umumnya berslogankan sosial.
Keas pun sadar bahwa masyarakat pada waktu itu masih bodoh. Keterkungkungan masyarakat akibat ulah pemerintah yang lama menjadikan masyarakat tidak melek politik maupun hukum. Dan kebodohan masyarakat itu pun ia manfaatkan. Dengan bermodal janji-janji muluk pada saat kampanye, uang yang banyak yang disebar lewat team sukses menghantarkan Keas menjadi anggota dewan legislative daerah hingga mamasuki dua periode.
Kini Keas ingin menjadi gubernur. Team sukses telah di bentuk bahkan telah bekerja. Dana yang sangat besar pun telah disediakan. Ya, dan preman itu pun ingin menjadi gubernur.
(Menjelang Pemilihan Gubernur 2005)
Lomser Hutabalian