Kampung Sotul

Huta Hatubuanku

On The Way to Batam

Posted by kampungsotul pada 6 Februari, 2010

Februari 1994, aku memasuki kota Batam. Waktu itu Batam masih belum seramai dan semaju sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dengan pohon-pohon yang rindang diantara kumpulan komplek perusahan dan daerah-daerah pemukiman. Rumah-rumah triplek dan kayu yang beratapkan getah masih mendominasi jumlah rumah di kota ini. Rumah-rumah ini menjamur diatas tanah otorita atau tanah yang telah dialokasikan kepada pengusaha namun belum digunakan. Sering terjadi masalah ketika pemilik lahan itu akan menggunakanya, biasanya ada perlawanan dan tuntutan ganti rugi. Mungkin karena itu pula rumah-rumah ini disebut rumah bermasalah menggantikan sebutan sebelumnya yaitu rumah liar (RULI).

Perjalananku dari Medan ke kota ini tidaklah mulus. Karena mobil yang aku tumpangi dari Pekan Baru menuju pelabuhan Buton rusak, terpaksa kami terlambat sampai di pelabuhan Buton. Sementara kapal yang seharusnya membawa kami ke Batam sudah pergi beberapa jam sebelumnya. Semua penumpang tentu saja kebingungan. Apalagi aku yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Aku memang tidak pernah bepergian jauh kecuali ke Sibolga tempat tinggal pamanku. Di sini tidak ada penginapan. Yang ada beberapa rumah-rumah penduduk yang kebanyakan kecil dan tidak terlalu bagus.

Untunglah, ternyata masih ada satu kapal kecil. Tapi kapal ini seharusnya tidak sampai ke Batam, hanya kepulau sekitar pulau Batam. Beberapa orang dari pengurus pelabuhan itu akhirnya sepakat dengan orang kapal untuk membawa kami sampai ke Batam. Puji Tuhan, meskipun jumlah penumpang sudah over capacity tapi akhirnya kami sampai juga di Batam.

Jam 10 malam kami sampai di pelabuhan. Masalah belumlah selesai. Tapi aku bersyukur karena masih bisa berkata: “Dalam nama Yesus aku menginjakkan kaki di tanah ini” pada pijakan yang pertama ketika aku turun dari kapal. Aku meyakinkan diri bahwa di tanah ini aku akan diberkati luar biasa oleh Tuhan.

Ada beberapa taksi pelabuhan yang sedang menunggu. Tidak banyak, karena jam tiba kapal sudah lewat beberapa jam. Masalah timbul karena aku hanya memiliki alamat perusahaan tempat tanteku bekerja. Tidak ada alamat rumah karena merekapun masih tinggal di ruli. Juga tidak ada nomor telepon. Handphone sendiri masih barang yang sangat langka waktu itu. Sedangkan malam hari menurut orang yang duduk sebangku dengan aku di kapal  perusahaan umumnya tidak bekerja. Aku bingung kemana aku harus pergi. Ketakutan sempat menyelimuti diriku. Untunglah teman yang duduk sebangku dengan aku di kapal mengerti keadaanku. Aku memang sempat bercerita kepada dia di kapal bahwa aku tidak punya alamat selain alamat perusahaan.Lalu dia minta tolong kepada supir taksi agar aku diantar ke sebuah penginapan. Tentu saja penginapan yang murah, karena ia tahu aku perantau.

Di dalam taksipun aku sempat diselimuti ketakutan. Jalan-jalan yang kami lewati begitu gelap. Tidak ada cahaya lain kecuali cahaya dari lampu mobil ini. Kucoba melihat dari kaca ke sisi kanan jalan yang ada hanya kegelapan. Juga kelemparkan pandangan ke arah kiri, akupun tidak melihat apa-apa selain pekatnya malam.  Aku coba beranikan diri bertanya kepada pak sopir, “kok, gelap seperti ini?”. “Wah, ini masih hutan semua dek” jawabnya. Aku sempat bimbang kalau-kalau supir ini tidak sedang membawa aku ketempat yang seharusnya yaitu ke penginapan seperti yang dipesankan oleh teman yang sebangku denganku di kapal. Tapi puji Tuhan setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mulailah tampak cahaya dari lampu penerangan jalan dan juga dari gedung-gedung. Tidak terlalu lama kemudian akhirnya akupun sampai di penginapan.

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak di penginapan. Hatiku belum benar-benar nyaman sebelum aku bertemu dengan tanteku. Akupun tidak terlalu yakin dengan kebersihan tempat ini. Dalam benakku tempat ini mungkin sering dipakai sebagai tempat maksiat. Tempat untuk melakukan apa yang disebut “short time“. Sebuah istilah yang aku ketahui dari temanku yang kebetulan pernah bekerja di sebuah hotel kecil. Hotel Melati kalau tidak salahnya sebutannya. Aku coba mengisi waktu dengan membaca Alkitab. Tapi akhirnya akupun “tumbang“ ketiduran. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Cepat-cepat aku mandi, berkemas dan keluar dari penginapan ini. Aku bertanya kepada penjaga penginapan ini bagaimana aku bisa sampai ke alamat yang aku miliki. Lalu dia menghantarkan aku untuk mengambil taksi. Kurang lebih setengah jam perjalanan aku tiba di perusahaan tempat tanteku bekerja. Akupun kemudian bertemu dengan dia.  Oh..Puji Tuhan legalah hatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena menghantarkan aku dengan selamat.

Cheers, Lomser H

Ditulis dalam 1 | Bertanda: , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

GUNDAHKU

Posted by kampungsotul pada 14 Februari, 2009

Sendi bergetar diterpa sunyi ditengah teriakan kemunafikan yang membahana.  Aku kesepian menjelajah waktu-waktu, mencari setitik harapan mengusir sepinya hati. Tak kutemukan sosok yang mau menemaniku meneriakkan kegundahan, karena mereka telah nyaman dengan suapan setetes madu. Padahal ada racun yang lebih pahit dari empedu di ujung manisnya madu.  Aku terus menjelajah, harapku ku temukan entah sampai kapan.

Ditulis dalam Kumpulan 2009 | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Debat Realita

Posted by kampungsotul pada 5 Februari, 2009

Telah mereka keluarkan jurus dan ilmu kanuragan mau melumpuhkan lawan. Kepala mereka beradu, tangan mereka menari dalam emosi. Aku tidak mengerti, tapi otak mereka aku nikmati.

Ditulis dalam Kumpulan 2009 | Bertanda: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Turun Lagi

Posted by kampungsotul pada 5 Februari, 2009

Tetesan itu tidak perlu kembali

seandainya kau tidak mengambilnya

kini kau bangga

dan kau bilang itu prestasi

padahal kau hanya mengembalikan yang kau ambil dulu

dan aku telah terlanjur menderita

Ditulis dalam Kumpulan 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »

TETESAN DI KEMARAU

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Aku lihat guratan diatas sana ,adakah tanda kedatanganmu ?

Telah ku undang engkau semampu asa, engkau semakin sombong

 

Ku dengar teriak diladang, ubiku demo terlentang

Kulihat sawahku menganga, padiku mengumpat merana

 

Telah ku undang engkau semampu asa, kapan kau datang ?

 

 

Lomser Hutabalian

03/06/03

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

Rose Mati

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Hm..

Tangkaimu akan busuk, aku tahu itu. Walau kelopakmu sedang benabur aroma wangi, namun engkau tidak tertancap dalam tanah bagaimana mungkin engkau berakar?

 

Tangkaimu akan busuk, aku tahu itu. Sesudah itu aroma-mu tidak lagi wangi. Tapi engkau pasti berinkarnasi menjadi rose plastik penuh kepalsuan.

 

Walau engkau masih tetap indah namun engkau tidak lagi wangi.

Hakekatmu adalah mati, keindahanmu hanyalah kepalsuan.

 

 

Lomser Hutabalian

26/06/03

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

PERS

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Sayap demi sayap mulai di paku lagi pada dinding-dinding ketidakadilan, ketika fakta durjana menjadi berita dengan aksara-aksara pada kertas edisi.

 

Uang dan kekuasaan menjadi keakraban yang menghasilkan kekuatan  sirnakan kebenaran. Dan burung gagak kini dapat  tertawa, setalah memangsa dia bebas tak terapa-apa.

 

Mungkin bukan lagi sayap kelak di paku tapi juga jantung, hingga engkau mati.

Jangan biarkan! Jangan! Engkau harus menang.

 

 

Jul’03 – Support to Pers

Lomser Hutabalian

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

Lembaran Kehidupan

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Lembaran dari buku kehidupan terbuka lagi, halaman yang terbubuhi tinta harus aku jalani. Siapa sanggup menolak kalau Dia berkehendak ?

 

Tuning frekwensi perjalanan manusia telah diputar, yang dialiri dengan tangga nada kehidupan Demikianlah irama nafas telah diperdengar oleh Dia sang Musisi firman.

 

Jalanilah hidup hingga terbuka lembaran terakhir. Ikutilah hingga tinta membubuhi halaman dengan titik terakhir. Sampai tuning frekwensi tidak lagi diputar dan irama nafas tidak lagi diperdengar

 

 

Lomser Hutabalian

Mei 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: , , , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Janji

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Lambang-lambang berserak di jalan dan umbul-umbul berkibar gagah penuh keangkuhan. Spanduk lebar penuh janji terpampangkan,

Juga Merekmu berkata engkaulah pilihan.

 

“Tagakkan supremasi hukum”

“Berantas KKN”

“Ciptakan lapangan kerja”

Dan lain-lain, dan lain-lain, itulah janjimu

 

Hanya,

Masih adakah dasar untuk percaya ketika kenyataan adalah janji tinggal janji?

 

 

Lomser Hutabalian

20 Juni 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Hanya

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Saat jemariku menggerayang diatas tubuhmu, engkau tidak mendesah.  

Bila aku menekan bagian-bagian sensitifmu, engkau tidak pun terperangah.

 

Hanya kata-kata yang tersurat

Kau….Keyboard

 

 

KurangKerjaan

Lomser  Hutabalian

Mei 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

Guru Muda Pengemis Tua

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Tertatih engkau hai pak tua, terseret kakimu  tak berdaya.

Menyusur jalan satu-satu, Kau paksa juga bertongkat kayu.

 

Sebuah mangkok ada di tanganmu, peci kumal dan tua payungi dirimu.

Tengadahkan tangan harap sesuatu, dari rasa iba orang yang melintasimu.

 

Seorang guru engkau, tapi itu dulu

Sangat dihormati engkau, tapi itu dulu

Sekarang, siapa yang perduli padamu ?

Siapakah yang ingat akan jasamu ?

 

Kasihan engkau pengemis tua. Masa mudamu menabur jasa, masa tuamu menuai duka.

Benarlah engkau pahlawan tanpa tanda jasa

 

 

Lomser Hutabalian

22 Mar 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

DUKA BUNDA

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Taburkan senyum kaburkan lara

Selimuti duka dengan tawa

Walau tegar engkau mencoba

Tapi aku sungguh tahu bunda

Engkau ada di dalam duka

 

Dibalik diammu engkau teriak

Dibalik senyummu engkau terisak

Tapi aku sungguh tahu bunda

Engkau ada di dalam lara

 

Ku coba yang aku bisa

‘tuk buatmu bahagia

Tapi apa yang aku bisa bunda

Tak cukup buat hatimu terus tertawa

 

Maafkan aku ya bunda

Yang aku bisa tidak seberapa

Kepada Tuhan ku untai kata

Berkat-Nya padamu semakin nyata

 

 

Lomser  Hutabalian

Maret 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

DIAM

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Aku cuma merenung

Jadi apa ?

 

Lomser Hutabalian

Juni 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

Calliandra

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Calliandra nama yang indah

Indo tergambar penggunanya

Siapa sangka bikin resah

Nama samaran ternyata cuma

 

Sekedar Canda

Lomser Hutabalian

Maret 2003

 

 

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

TAKUT ISTRI.

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Seorang raja yang sangat takut kepada istrinya, mengeluarkan suatu undang-undang yang menyatakan bahwa setiap suami harus tunduk pada perintah isterinya masing-masing. Lalu dalam suatu evaluasi penerapan uu tersebut sang raja memanggil para petingginya untuk berkumpul di ruang rapat istana kerajaan.

 

Raja : “Saudara-saudara para petinggi kerajaan. Sudah menjadi suatu
kebiasaan baru bagi kita untuk tunduk kepada isteri masing-masing sesuai
dengan undang-undang. Dan sebelum kita mengevaluasi penerapan undang-undang tersebut saya mau tahu terlebih dahulu apakah saudara-saudara telah menerapkannya dalam keluarga masing-masing. Baiklah, siapa-siapa yang tunduk pada perintah isterinya silahkan maju ke depan.”

 

Semua para petinggi kerajaan maju kedepan karna memang mereka telah
menerapkan undang-undang itu, kecuali Poltuk (bukan si Poltak si raja minyak ).

 

Lalu raja bertanya kepadanya.

 

Raja :        “Poltuk, mengapa kamu tidak kedepan ? Apakah kamu tidak menerapkan
undang-undang yang saya keluarkan ?”

 

Poltuk  :    “Bukan begitu baginda raja.”

 

Raja  :       “Lalu kenapa ?”

 

Poltuk :     “E…e…..maaf baginda, saya tidak mungkin maju kedepan tanpa
perintah isteri saya.”

 

Raja  :       “<?>”

 

 

Lomser Hutabalian

DES. 2002

Ditulis dalam Kumpulan 2002 | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

PETANI

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

Peluh kering tiada ganti
Rambut putih oleh mentari
Menipis, menipis
Lalu habis

Lomser Hutabalian
Dec 2002

Ditulis dalam Kumpulan 2002 | Tinggalkan sebuah Komentar »

NELAYAN

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

Dayung-dayung selalu
Pulau-pulau berlalu
Ombak-ombak menderu
Pulang-pulang layu

Lomser Hutabalian

Dec 2002

Ditulis dalam Kumpulan 2002 | Tinggalkan sebuah Komentar »

CABAI DALAM HAYALAN

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

Di suatu tempat pinggiran kota, adalah sebuah keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. Suatu hari keluarga ini berencana untuk menanam cabai dalam jumlah yang besar. Dan ketika mereka sedang menjemur cabai untuk dijadikan bibit, bermulalah cerita ini.

 

Ayah : “Bu, ayah pikir kalau nanti cabai kita ini berhasil, ada baiknya kita beli kambing untuk kita ternakkan.”

 

Ibu     : “Ya, itu ide yang bagus , yah.”

 

Ayah : “Nah, kalau ternak kambing berhasil kemudian kita akan beli sapi dan kita ternakkan.”

 

Ibu  :      “Benar ‘yah. Wah… ayah ini jitu juga ya?”

 

Ayah :   “Siapa dulu dong..ayah ! Dan kalau sapi kita berhasil kita akan beli mobil.”

 

Ibu :       “Mobil? Jangan mobil dong ‘yah! Lebih baik kita beli rumah di kota dan kemudian kita kontrakkan, kan ada penghasilan tambahan!”

 

Ayah :   “Ah….ibu ini, untuk apa kita beli rumah di kota? wong kita ada di desa sini kok. Lebih baik kita beli mobil – kan bisa b’gaya sama orang-orang kampung sini!”

 

Ibu :       “Pasti ayah punya rencana lain kalau ada mobil, pasti mau cari perempuan lain. Pokoknya ibu tidak setuju beli mobil, harus beli rumah.”

 

Ayah :   “Tidak bisa ! kita harus beli mobil.”

 

I & A :    “harus rumah”… “mobil”…”rumah”…”mobil”……” Demikianlah kemudian terjadi pertengkaran yang sungguh dahsyat, si ayah ngotot dengan mobilnya, si ibu ngotot dengan rumahnya sampai-sampai ada piring terbang, gelas-gelas kaca dll. Dan Akhirnya.

 

Ayah:    (dengan emosi yang meluap-luap) – “Ibu memang keras kepala, tidak patuh pada suami. Kalau begitu lebih baik kita cerai saja. Cerai, cerai.”

 

Ibu :     (juga dengan emosi yang tinggi) – “Ayah yang selalu mau menang
sendiri. Oke kalau memang perceraian yang kamu kehendaki, silahkan.”.

 

Dan rupanya di balik pintu kamar kedua anak mereka sedari tadi mendengar
pertengkaran orang tuanya. Sambil menangis si Oncom dan Si Nenik memberanikan diri untuk angkat bicara .

 

Oncom : “Ayah, Ibu, janganlah bercerai ! Kalau Ayah dan Ibu bercerai lalu
kami bagaimana ?”

 

Nenik : “Bukankah cabainya juga masih di jemur dan belum di tanam? Kenapa ayah dan ibu bertengkar?”

 

A/I  :     ?..?..? (glek)

 

 

Lomser H.

Des. 2002

 

 

 

 

Ditulis dalam Kumpulan 2002 | Tinggalkan sebuah Komentar »

BUALAN

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

 

Demi rakyat

Demi rakyat

Demi rakyat

Semua kalian bilang demi rakyat

                                      

Demi rakyat

Demi rakyat

Entah siapa rakyatmu

 

Demi rakyat

Demi rakyat

Demi rakyat

Rakyat yang mana rakyatmu?

                                            

Engkau hanya besarkan perutmu.

Kalau aku rakyatmu.

Harusnya kau bela juga perutku.

 

 

Lomser Hutabalian

Des 2002

Ditulis dalam Kumpulan 2002 | Tinggalkan sebuah Komentar »

ALAM

Posted by kampungsotul pada 4 Februari, 2009

Sejuk segar udara pagi
Membawa wangi aroma alam
Gemulai tarian dahan
Riuh tepuk ranting dan dedaun
Mengiringi lagu kicauan burung

Alam….
Indah nian t’lah tercipta
Melengkapi sempurnanya ciptaan
Keajaiban suatu maha karya
Oleh Tuhan semesta alam

Biarkan….
Biarkan alam dalam damainya
Hindarkan jahilmu dari hutannya
Bebaskan cemar dari sungainya
Jangan ganti wangi aroma alam
Dengan bau busuk kepentinganmu

Beri harga pada Dia yang menciptakan
Ingat mereka yang kepadanya alam diberikan
Bicaralah masa depan
Biarkan alam dalam damainya

Lomser H

Des 2002

Ditulis dalam Kumpulan 2002 | Tinggalkan sebuah Komentar »

JANITOR ITU BERMIMPI

Posted by kampungsotul pada 30 Januari, 2009

JANITOR ITU BERMIMPI.

(Kisah lanjutan dari Lomser…Hurry Up)

 

Seperti biasa, pagi itu aku dibangunkan oleh kebisingan jam waker tepat pukul 5 pagi. Itu artinya aku harus bersiap-siap untuk mengadapi rutinitas pekerjaan. Aku harus cepat-cepat sampai di kantor, membersihkan seluruh ruangan kantor, toilet dan menyediakan air panas, kopi/teh, gula sebelum semua staf masuk pukul 7 pagi, kecuali pimpinan dari client representative yang selalu masuk kantor sebelum jam 6 pagi. John Donachie namanya. Ia seorang warga negara Scothlandia yang  rajin, tegas tapi juga humoris. Ia pernah bercanda dengan berkata bahwa nanti yang pasti ada dua J di sorga, yang satu JC (Jesus Christ) dan yang satu lagi JD (John Donachie) yaitu namanya sendiri.

 

Kurang lebih 25 menit lamanya naik ojek dari rumah paman tempat aku kost menuju tempat kerja. Dinginnya pagi selalu aku lawan bersenjatakan jaket lusuh yang aku beli dari loakan atau tempat jual barang second. Di kantor pekerjaan sudah menunggu. Yang paling utama harus aku siapkan yaitu rebusan kopi dengan coffee maker besar, menyediakan teh, gula dan creamer, memastikan toilet bersih dan ruangan-ruangan di pel sebelum para staff dan karyawan yang lain datang. Sesungguhnya pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang biasa aku lakukan, namun bukan berarti tidak bisa kukerjakan, karena waktu sekolah kami biasa mandiri karena orang tua harus banting tulang cari nafkah. Biasanya mereka pagi buta sudah pergi belanja ikan untuk mereka jual. Jadi bisa dikatakan gak banyak waktu mereka untuk mengurusin kami anak-anaknya.

 

Jujur saja, aku sering bermimpi ingin seperti karyawan yang lain. Datang ke kantor tanpa harus buru-buru, dengan pakaian bagus dan rapi. Mereka yang berstatus engineer atau staff, sekretaris, document control, teknical clerk dan yang selevel dengan itu biasanya datang ke kantor dengan santai dan pakaian rapi. Hm…andai aku seperti mereka. Dan aku bertanya dalam hati dan inilah mimpiku “Bisa gak suatu saat nanti aku seperti mereka?”.

 

Disela-sela pekerjaan atau ketika break time, aku kadang-kadang cari kesempatan berbincang-bincang dengan inspektor-inspektor yang ada dikantor itu. Kebetulan waktu itu sebagian inspektor adalah orang Malaysia dan Indonesia.  Topik pembicaraan bermacam-macam. Mereka sering kali bercerita tentang banyak hal, baik itu mengenai keluarga, situasi politik, perjuangan hidup, pekerjaan, dan lain-lain. Yang paling mengesankan bagiku adalah dimana melalui pekerjaan, mereka sudah malang melintang ke beberapa negara. Sungguh pengalaman yang membanggakan. Apa yang mereka alami di beberapa negara yang sudah mereka jalani mendorong pikiranku untuk bermimpi “Bisa gak suatu saat aku mengalami seperti yang mereka alami, menginjakkan kaki di beberapa negara lain?”

 

Bisa jadi orang bilang bahwa aku ini bagai seekor burung pungguk yang merindukan bulan. Suatu impian yang mustahil dengan statusku yang adalah seorang tukang sapu. Aku yang tidak punya sekolahan dan tidak punya pengalaman. Jangan bilang aku orang yang malas sekolah atau tidak mau kuliah. Bukan. Bukan aku yang tidak mau kuliah, tetapi orang tuaku yang tidak sanggup mengkuliahkan aku. Untuk meluluskan aku STM-pun orang tuaku sudah kewalahan, apalagi ada banyak adik-adikku yang antri masuk SMP dan SLTA waktu itu.

 

Tapi Tuhan-ku sungguh baik bagiku. Ketika aku memberi hatiku kepada-Nya, Ia melihat semua yang ada di dalam hatiku. Aku tidak meminta kepada-Nya apa yang aku impikan, tapi tanpa aku minta Dia sudah melihat kedalam hatiku yang paling dalam. Selang beberapa bulan aku sebagai Janitor, aku kemudian diangkat menjadi Document Control. Sungguh diluar dugaanku. Mimpiku yang pertama terjawab sudah.  Dan seiring waktu berjalan, berbagai posisipun berganti-ganti aku jalani, dari document control, field clerk, commissioning clerk, dossier coordinator dan menjadi pims administrator.  Dan lagi-lagi Tuhan mewujudkan impianku. Melalui beberapa posisi itu pula, aku telah menginjakkan kaki di beberapa negara. Aku pernah ke Myanmar, Thailand (4 kali), Vietnam, Malaysia dan Singapura.

 

Ah..sunguh baik Tuhan-ku itu kepadaku, Ia telah memungkinkan yang tidak mungkin bagiku. Terpujilah Engkau Tuhanku. I Love You so much.

 

Januari 2009.

Lomser Hutabalian.

Ditulis dalam Kumpulan 2009 | Tinggalkan sebuah Komentar »

Ketika Nganggur 2000

Posted by kampungsotul pada 20 September, 2008

ASAKU

 

Asaku, sebanyak apakah engkau kini dalam jiwa, sanggupkah engkau bertahan asaku, hingga ajal yang ditentukan menjemput aku ?

Hari bagai tak bersahabat, malam bukan untuk istirahat.

Kucoba meraih angan-angan, tapi kenyataan hanyalah mimpi.

Aku tertatih, terseok dan terjungkal. Akhirnya terjatuh menelungkup tanah.

Dengan sisa semangat dan tenaga yang tidak lagi seberapa kucoba untuk bangkit. Tapi aku terjatuh lagi

Oh, masihkah aku mampu bangkit? Perlukah kucoba lagi ?

Tuhan tolonglah aku, suburkan asa jiwa.

Peganglah tanganku jangan tinggalkan aku

 

Lomser H

September 2000 (Ketika nganggur)

 

 

HABIS MANIS

 

Dulu, ketika rotiku masih dapat kubagi, mendekatlah engkau sahabatku.  Kuraih, beri engkau. Dan mendapatlah engkau atas rotiku, sahabatku

 

Dulu, ketika kopi susu dalam teko-ku masih dapat kubagi, mendekatlah engkau saudaraku. Kucurahkan dalam gelas, ku beri engkau. Dan mendapatlah engkau atas kopi susuku, saudaraku

 

Dulu, ketika uang besar mendominasi kantongku, mendekatlah engkau  kekasihku. Lima lembar tidak seberapa, kuberi engkau. Dan mendapatlah engkau atas uangku, kekasihku

 

Tapi kini,

Dimanakah engkau sahabatku? Dimanakah engkau saudaraku?

Dan..Kau kekasihku, tidakkah engkau merindukanku lagi?

Dimanakah kamu semua ketika aku tidak lagi dapat memberi?

 

 

Lomser Hutabalian

September 2000 (ketika nganggur)

Ditulis dalam Kumpulan 2000 | 1 Komentar »

SIBUNGA MERAH SUMRINGAH

Posted by kampungsotul pada 20 September, 2008

 

 

Si Bunga Merah kini tersenyum sumringah
Titik wajahnya terhimpit kini dan warna berani seirama hatinya yang
bernyanyi
Dia pikir dia kuat kini mau menghalau terpa angin kompetisi
Banyak bunga-bunga jantan kini berbaris melingkar juga bunga betina
sepapi

Si Bunga Ungu, Si Bunga Kuning, Si Bunga Ijo,
Si Bunga Ijo Segi Lima dan Si bunga-bunga kecil
Berdiri menopang si Bunga Merah

Ranting Si Bunga Merah sukses merangkul
Si Bunga Ijo Segi Lima bilang dia terpaksa.
Ada yang bilang daripada patriot lebih baik putri
Karena di dalam roknya ia bisa bersembunyi

Kumbang-kumbang kelimpungan
Sari bunga-bunga sudah menyatu antara madu dan racun
Semut-semut melatipun bergelimpangan
Susu sebelanga bercampur nila bertitik-titik

Dalam kumpulan bunga-bunga yang merapat
Akankah muncul warna keindahan?
Atau tikus-tikus menambah sarang?

 

 

Menunggu Pemilu September 2004
Lomser

Ditulis dalam Kumpulan 2004 | Bertanda: , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Demokrasi Pilih Bulu

Posted by kampungsotul pada 20 September, 2008

Issu fisik, demokrasi sudah berjalan

Issu otak, demokrasi sudah laju

Issu suku, demokrasi mulai mulus

Issu iman, demokrasi masih tercekik.

 

Jelang Pemilu 2004

Lomser Hutabalian

Ditulis dalam Kumpulan 2004 | Bertanda: , , , , | 1 Komentar »

MANA BUKTINYA ?

Posted by kampungsotul pada 20 September, 2008

 

Terdiam aku, dalam keheningan yang kurasa diantara hiruk-pikuk propaganda

Pikirku menerawang dan hati perih teriris oleh sayatan belati  tak bertulang

Tiada fakta yang membanggakan diantara bergudang-gudang janji manis

Hanya minuman sari empedu yang tersaji dan yang tak dapat ku tolak.

Mana bukti janjimu dulu ?

Skak mat. Umpatku padamu.

 

Setelah Pemilu

Lomser Hutabalian

Ditulis dalam Kumpulan 2004 | Tinggalkan sebuah Komentar »

TERIAKAN MASA DEPAN DARI KUBANGAN

Posted by kampungsotul pada 20 September, 2008

 

Dari seluruh penjuru angin keangkuhan manusia ditebarkan

Aroma egoisme berdiri, terpaut dipinggang kedua tangan

Teriakan ombak seakan mengukuhkan kesombohongan

Sinisme, fanatisme, kekerasan menjadi sarapan.

 

Dari kubangan telapak kaki di tanah yang terinjak

Masa depan anak manusia merana terisak

Seperti orok yang tidak menjadi anak

Meski jadi anak, kulit dan tulang tinggal kerak

 

Interaksi manusia berselimut kecurigaan

Setiap tatapan mata seakan menjadi hukuman

Bagi mereka yang ada dibelakang barisan

Mereka bertanya : sampai kapan ?

 

 Sep. 03 - Salam Damai Indonesia-ku

Lomser Hutabalian

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

orang dan orang utan

Posted by kampungsotul pada 20 September, 2008

Membaca Intisari edisi Desember 2003 tentang orang utan, saya agak terkesima. Tulisan yang berjudul “Cerita saudara tua kita” itu menjelaskan banyaknya kesamaan antara orang (manusia) dengan orang utan. Beberapa kesamaan itu antara lain : Tulang, gigi dan bulu sama banyaknya dengan manusia. Walau bulu orang utan kelihatan lebat bukan karena lebih banyak dari manusia melainkan hanya karena lebih panjang. Orang utan juga sering menangis, merengek,  dan mempunyai masa kehamilan sama seperti manusia. Begitu juga dengan data kesamaan DNA yang mencapai 98,7 %.

 

Sifat dan kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh manusia ternyata juga dimiliki oleh orang utan. Hanya saja sifat dan kebiasaan terpuji  itu masih tetap lestari pada orang utan, sedangkan pada manusia sifat-sifat itu sudah hampir-hampir punah. Malahan kecenderungan sifat manusia jaman sekarang ini sudah terbalik dari sifat-sifat terpuji yang pernah dimiliki.

 

Menurut penelitian, sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh orang utan yaitu : Anti konflik, Sosialis, Solider, menghargai dan mengasihi. Sementara pada manusia sifat-sifat seperti diatas sudah jarang dan sulit ditemukan pada zaman ini. Manusia justeru cenderung menciptakan konflik, Sosial rendah, tidak menghargai bahkan cenderung menginjak-injak hak azasi orang lain,  tidak ada iba melihat orang-orang yang melarat dan yatim-piatu, bahkan juga sering kita dengar bantuan sosial kepada masyarakat kecil, yang mengalami bencana dananya disunat dan hanya sebagian kecil yang sampai kepada orang yang seharusnya berhak.

 

Melihat kenyataan diatas maka timbullah suatu pertanyaan :

Lebih manusiaan mana antara orang dengan orang utan  ?

Atau

Lebih binatangan mana antara orang dengan orang utan  ?

 

 

Des.03

Lomser Hutabalian

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: , , , , , , , | Tinggalkan sebuah Komentar »

Istriku dan Anakku

Posted by kampungsotul pada 19 September, 2008

Isteriku

 

Tadi malam ia memelukku erat

Kemudian ia mencium pipiku

Aku sedikit cuek

Tapi ia terus merayuku

Lalu kutanya “apa maumu ?”

“Giwang baru” katanya

Huh, dasar matre kataku.

 

Lomser Hutabalian

07 Juni 03

 

 

Anakku

 “Hore…papa datang” katamu

“Dek, papa datang” katamu pada adikmu

“hole……papa atang” kata adikmu

Kalian berlari menyongsongku

Ku angkat dan ku gendong engkau di tangan kiriku

Ku angkat dan ku gendong adikmu di tangan kananku

Lalu kalian bertanya : “Papa bawa apa ?”

“Dasar matre juga” jawabku dalam hati.

 

 

Lomser Hutabalian

07 Juni 03

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Tinggalkan sebuah Komentar »

BEBAS BICARA

Posted by kampungsotul pada 19 September, 2008

 

Sudah menjadi tuntutan dunia agar setiap orang memiliki hak kebebasan berbicara dan menyampaikan pendapat/aspirasi. Diberbagai belahan dunia, kebebasan ini sudah menjadi kebiasaan bahkan dijamin oleh hukum. Sedangkan di beberapa belahan dunia lainnya hak kebebasan berbicara dan menyampaikan pendapat adalah sesuatu yang sangat mahal dan sulit ditemukan.

 

Atas dasar demokrasi dan hak azasi, orang-orang mempraktekkan kebebasan berbicara dan menyampaikan pendapat tentang segala sesuatu. Kebebasan ini memang baik dan sudah menjadi suatu kebutuhan untuk memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mengungkapkan pendapatnya, keingingannya dan memproklamirkan jati dirinya kepada dunia sekitarnya.

 

Namun seringkali kebebasan bicara dan mengungkapakan pendapat ini menjadi kebablasan, karena dilakukan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Ada yang ingin menyampaikan aspirasinya dengan cara demonstrasi, dari yang hanya sekedar konvoi hingga tindakan anarkis yang menimbulkan kerusakan dan kerugian pada orang lain.  Bahkan seringkali timbul kesan dimana cara penyampaian aspirasi justru memaksakan kehendak kepada orang lain. Dan kebebasan berbicara yang membabibuta yang menghilangkan sopan santun dan etika, merendahkan orang lain, dapat menyakiti hati bahkan mencaci-maki orang lain. Oleh karena itu masih diperlukan hukum yang tertulis sebagai pagar pembatas antara kebabasan berbicara dan menyampaikan pendapat dengan perlindungan atas hak orang lain.

 

Selain hukum tertulis, hal yang sangat perlu diupayakan adalah pendidikan moral dan etika baik secara formal dilembaga pendidikan maupun informal di keluarga/lingkungan dan di agama. Pendidikan moral dan etika di lingkungan keluarga dan dilingkungan keagamaan  akan lebih kuat mempengaruhi sikap & kepribadian seseorang mengingat kedekatan emosional. Masalahnya adalah kalau keluarga dan agama sudah kehilangan moral dan etika, akan jadi apa manusia ini?

 

 

Lomser Hutabalian.

Juli’06

Ditulis dalam Kumpulan 2006 | Tinggalkan sebuah Komentar »

LOMSER..HURRY UP!

Posted by kampungsotul pada 12 September, 2008

 

Kisah ini terjadi tahun 1995-1996 yang lalu. Sebagai seorang karyawan yang berprofesi sebagai Office Boy atau CS (Cleaning Service) yang di perusahaan tempat saya bekerja disebut “Janitor”, saya harus selalu siap kalau ada staf atau karyawan yang lain meminta saya untuk mengerjakan sesuatu atau membantu mereka sekitar pekerjaan kantor.

 

Pekerjaan utamaku sebagai seorang Janitor adalah membersihkan kantor mulai dari ruangan-ruangan kantor, koridor sampai membersihkan WC. Juga menyediakan kopi atau teh, air minum dan kertas photo copy. Selain mengerjakan pekerjaan tersebut, saya juga sering diminta untuk membantu photo copy, mengantar surat, menyusun file/drawing, dll yang bersifat clerical job.

 

Tersebutlah seorang perempuan bernama ibu SM yang bekerja sebagai Front Officer di kantor itu. Ibu SM ini meski sudah tua tapi masih terlihat cantik dan energic. Jika para bosses ada yang menyuruh dia untuk mengerjakan sesuatu maka dia akan bereaksi extra cepat. Dia selalu ingin memberi the best service kepada semua orang dalam hal ini Client Representative, dimana kantor ini memang disediakan khusus untuk mereka.

 

Para boss-boss itu kalau menginginkan sesuatu misalnya untuk photo copy, mengantar surat, atau butuh kopi/teh/softdrink, tissue kotak, dan lain sebaginya, biasanya mereka menyampaikannya kepada ibu SM. Dan sudah pasti ujung-ujungnya instruksi ini jatuhnya kepada saya juga sebagai “executor”.

 

Karena saya kerja rangkap-rangkap maka sering sekali kalau ibu SM ini membutuhkan saya, tidak selalu ada di hadapan dia secepat yang ia inginkan, sementara dia maunya selalu extra cepat. So, tidak mengherankan kalau dia selalu memanggil saya minimal dua kali. Yang pertama “Lomser…” lalu kalau saya sudah jawab “ya. bu” maka akan disusul dengan panggilan kedua “Lomser…hurry up!”.

 

Sangat seringnya ibu SM ini memanggil saya dengan cara seperti itu, maka panggilan ini menjadi “istilah’ atau “trade mark” untuk memanggil saya. Jadi sepanjang proyek berlangsung yang kurang lebih 2 tahun itu, setiap orang yang memanggil saya “Lomser..Hurry Up!”. Sungguh aneh.!!

Ditulis dalam Kumpulan 2008 | 2 Komentar »

RECKY FOR IDOL

Posted by kampungsotul pada 11 September, 2008

 

 

Recky tampil ke panggung sebagai utusan dari PT. Unang Holsoan Jaya, salah satu perusahaan rakitan elektronik yang berada di kawasan Keas Group Investment. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton membangkitkan semangat dan rasa percaya dirinya untuk menampilkan lagu secara maksimal dalam ajang Keas Group Idol.

 

Ajang ini terinsipirasi dari sebuah acara spektakuler dari luar negri yaitu American Idol. American Idol sendiri juga telah menjadi inspirasi bagi beberapa negara untuk mengadakan acara yang sama dengan nama negara masing-masing. Ada Singapore Idol, Malaysian Idol, dll. Di Indonesia disebut Indonesian Idol.

 

Musik telah dimulai. Tepuk tangan dan sorak sorai mulai mereda. Semua penonton seakan tidak ingin melewatkan setiap alunan suara yang akan disuarakan oleh Recky.  Hanya penonton yang berada dibarisan paling depan masih sibuk berdesakan untuk mengambil foto Recky dari jarak dekat dengan handphone kameranya masing-masing.

 

Recky pun mulai bernyanyi. Dia membawakan salah satu lagu pop sebagai lagu wajib seperti yang diwajibkan oleh panitia. Sedangkan lagu  bebas diserahkan kepada peserta untuk memilih lagu dan jenis musik; rock, dangdut atau jenis musik lainnya.

 

Karakter vocal Recky memang luar biasa. Power suaranya luar biasa. Hampir tidak pernah ada celaan dari tiga orang team pencela dalam setiap kali penampilannya selama audisi. Tidak mengherankan kalau banyak orang yang mendukungnya.  Wajah tampan  dan body atletisnya menjadi nilai tambah yang menarik perhatian banyak penonton yang mayoritas wanita di kawasan industri tersebut.

 

Lima peserta yang tersisa di audisi kali ini dari dua puluh peserta sebelumnya yang mewakili dua puluh perusahaan, telah selasai membawakan lagu wajib mereka. Keyakinan Recky akan keluar sebagai Idol begitu tinggi, mengingat banyaknya dukungan dari penonton dan pujian-pujian yang disampaikan oleh team pencela.

 

“Saya pasti menang” katanya kepada rekan-rekan sekerjanya suatau ketika.

 

Tiba waktunya bagi setiap peserta tampil kedua kalinya ke pentas untuk membawakan lagu pilihan. Recky memilih membawakan lagu dangdut kesukaannya. Tepuk tangan dan yel-yel kembali bergemuruh ketika MC memanggil nama Recky untuk tampil kembali ke pentas.

 

“Recky…Recky…Recky…” sorak-sorai mereka di iringi tepuk tangan yang meriah.

 

“Terimakasih, terimakasih.” Recky tampil di pentas dengan penuh percaya diri. 

 

“Saya berterima kasih kepada seluruh teman-teman yang telah mendukung saya selama ini, tanpa kalian semua tidak mungkin saya ada disini  Kali ini saya akan bawakan lagu berjudul : “Pangeran Dang…du…..t” serunya dengan nada tinggi  penuh antusias.

 

Para penonton bertepuk tangan meriah. Ada yang megelu-elukan namanya, ada yang bersuit-suit. Sungguh, suatu sambutan yang benar-benar meriah. Seorang gadis manis yang berada di barisan terdepan penonton bahkan menyambutnya dengan histeris.

 

“Recky…Recky…I Love You”  teriaknya.

 

Sementara pendukungnya yang lain ada yang mengangkat poster-poster bergambar si Recky dan ada juga yang mengangkat spanduk kecil berukuran satu meter bertuliskan : Recky for Idol.

 

Musik mulai dimainkan. Recky pun mulai bergoyang. Para pendukungnya masih terus bersemangat untuk mengangkat spanduk-spanduk kecil dan poster-poster Recky itu sambil ikut bergoyang mengikuti irama lagu yang dimainkan. Sementara para penonton di barisan depan berebut dan berdesakan mengulurkan tangannya berharap Recky menyalami atau sekedar menyentuh tangan mereka.

 

Irama musik terus mengalun mengiringi lagu yang dibawakan Recky yaitu dangdut rock. Recky bergoyang dan sesekali melompat-lompat. Namun  naas baginya ketika ia melompat tiba-tiba “gedebuk”, Recky terjatuh dan kaget.

 

Beberapa waktu dia terdiam. Dengan agak linglung dan heran dia mendapati dirinya ternyata tidak sedang berada di pentas. Dilihatnya sekeliling tidak ada penonton, tidak ada musisi. Sementara bunyi sorak sorai berubah menjadi bunyi ketukan pintu dan teriakan.

 

“Hei ada orang di dalam?” begitu suara yang terdengar dari balik pintu.

 

“Sudah dua jam, kok nggak selesai? Ngapain aja sih? Tidur ya? suara yang lain bergema dengan nada jengkel.

 

Recky masih agak bingung. Ia mencoba menyadari apa yang terjadi. Dan setelah beberapa waktu ia baru sadar bahwa ia ternyata sedang berada di toilet. Ia mendapati dirinya terjatuh dilantai dengan celana melorot sampai ke dengkul. Rupanya ia  sedang buang hajat seraya menghayalkan dirinya sedang mengikuti kempetisi Idol. Saat ia membayangkan dirinya melompat di pentas, tanpa sadar ia juga melompat dari dudukan toilet sehingga terjatuh. Demam idol-idolan ternyata juga telah merasuk kedalam diri Recky.

 

“i..iya, ya,” Recky dengan gugup menjawab suara yang berteriak dari luar. Setelah meyadari betul dirinya, cepat-cepat ia membersihkan lubang hajatnya lalu membetulkan celananya dan sejurus kemudian membuka pintu. Rupanya sudah sejak tadi beberapa teman sekantor Recky  antri hendak ke toilet. Bahkan sudah bolak balik kayak setrikaan dari ruangan kantor ke toilet. Mereka heran, sudah dua jam kok toilet tutup terus.

 

Dengan wajah pucat pasi, Recky  keluar dari toilet. Teman-teman sekantornya heran bercampur kesal. Siska teman sekantornya yang terkenal galak melototin dia.

 

“Sial, ternyata semua hanya hayalan.” gumamnya kesal sambil berlalu.

 

                                                                        Batam, September 2005.

                                                                        Lomser Hutabalian.

 

 

 

 

 

Ditulis dalam kumpulan 2005 | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

Berpulangnya Tante Renda

Posted by kampungsotul pada 9 September, 2008

 

Gadis kecil itu bermain dihalaman bersama teman-teman sebayanya. Seakan dia tidak perduli dengan apa yang terjadi. Memang ia masih terlalu kecil untuk mengerti cobaan yang sedang diperhadapkan kepada  keluarganya. Tawa kecilnya yang renyah tidak membuatku tertawa tetapi justeru bagai sebilah pisau yang menyayat hati. Siska sepupuku itu masih sangat ingusan. Usianya yang baru mendekati 2 tahun membuat dia tidak dapat memahami apa arti keramaian di rumahnya. Ibunya yang terbujur kaku disangkanya sedang tidur. Dan keramaian di rumahnya justeru membuat dia gembira, karena banyak orang lalu lalang, ibu-ibu yang membawa serta anak-anaknya melayat Tente-ku  ibunya Siska.

 

Tadi pagi dia sempat menangis karena melihat ayahnya menangisi ibunya yang dianggapnya sedang tidur itu. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya menangis. Tapi begitu melihat ayahnya menangis, dia pun menangis. Tapi tak lama kemudian dia pergi bermain bersama teman-temannya yang sedari tadi di luar. Akupun turut sedih dan menangis. Kesedihan yang dialami oleh seluruh keluarga terlebih Om Jaka suami tanteku begitu merasuk hatiku, dan tanpa dapat kubendung lagi air mata membasahi pipiku.

 

Sungguh malang memang tanteku. Dia adalah adik ibuku yang paling bungsu. Renda namanya. Semua orang menyayanginya. Mendiang Kakek dan nenek, tiga orang pamanku dan tentu saja juga ibuku sebagai anak sulung dari lima saudara. Usia tante Renda sendiri masih muda,  jarak usianya dengan pamanku yang bungsu cukup jauh, apalagi dengan ibuku.  Tante Renda lahir ketika ibuku sudah beranjak dewasa. Oleh karena itulah ibuku sangat menyayanginya.  Ibuku juga pasti akan merasa terpukul setelah ia tahu bahwa adik yang sangat disayanginya itu telah lebih dulu berpulang. Dia pasti juga merasakan betapa sedih dan sakit penderitaan yang dialami oleh keluarga adiknya itu.

 

Entah kapan ibu dan ayahku akan datang. Kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu sejak tadi siang. Keluargaku memang jauh di daerah timur. Ayahku bertugas disana sejak dua tahun lalu. Sedang aku beserta dua orang adikku tetap tinggal di Medan dekat dengan keluarga ibuku, untuk melanjutkan sekolah.

 

Sudah banyak keluarga, kerabat yang datang, sementara tetangga datang silih berganti. Banyak juga diantara mereka yang datang pagi, pergi pulang dan datang lagi sore ini. Orang yang menangisi jenajah tante Renda pun silih berganti seperti kebiasaan daerah kami, tapi Om Jaka tidak lagi sanggup mengeluarkan suara karena sejak kematian isteri yang sangat disayanginya ini  tadi malam hingga tadi pagi,  ia terus menangis dan sekali-sekali berteriak seakan tidak dapat menerima keadaan ini. Hanya isak dan air mata yang terus membasahi pipinya. Dan aku masih tetap menjaga sepupuku Siska seperti yang ditugaskan kepadaku. Memberinya makan dan membawanya ke halaman. Dan di halaman dia bermain bersama teman-temannya. Sesekali aku juga membawanya ke warung membeli jajanan. Aku mencoba mengalihkan perhatiannya supaya ia tidak merengek minta agar ia terus bersama ibunya.

 

Selagi sepupu itu asyik bermain, tiba-tiba ada suara tangisan dan teriakan dari kejauhan. Lamunankupun buyar. Aku kaget dan penasaran siapa gerangan itu? Aku berdiri dan melihat ke arah datangnya suara, ternyata ibuku sudah datang dan dia tidak dapat lagi menahan tangisnya. Sambil berjalan dia berteriak histeris.

 

Ku gendong sepupuku dan pergi menyongsong ibuku.  Sementara keluarga yang lain juga datang menyongsong. Kurangkul ibuku sambil tetap menggendong siska, sekedar mencoba agar ibuku tetap tenang. Namun rasa kehilangan yang amat dalam membuat ibuku terus menangis histeris sambari memanggil-manggil nama adiknya yang sangat dicintainya itu. Semua orang kembali terharu dan banyak yang kemudian ikut menangis. Tak ayal matakupun turut meneteskan air mata namun aku terus berusaha menenangkan ibuku.

 

Ibu ku kini lebih tenang setelah lelah menangisi adiknya. Sedangkan Siska juga mulai gelisah karena ruangan yang agak panas. Dia juga tadi sempat menangis karena melihat orang-orang menangis. Namun ia tidak mengerti kenapa orang-orang pada menangisi ibunya yang di kira tidur itu. Lalu aku mencoba mengajak ibuku bicara menanyakan tentang keadaan mereka dan mengapa ayahku tidak ikut serta. Ia bilang bahwa ayahku tidak bisa ikut karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang sangat mendesak. Dan ibuku pun menanyakan tentang keadaanku dan adik-adikku.

 

***

Pukul 4.30 acara adat dan keagamaan dimulai. Kurang lebih setengah jam kemudian prosesi pemakaman diadakan. Keluarga dan handai taulan menangis lagi. Begitu juga om Jaka, paman-pamanku  dan ibuku. Mereka merasa sedih karena tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang yang dicintainya itu. Menjelang pukul 6.00 pemakaman selesai. Kami semua kembali ke rumah. Sepupuku Siska yang tadi ketitip kepada adikku mulai merengek mencari ibunya. Antara pukul lima dan pukul enam  adalah waktu dimana ibunya biasanya memberinya makan. Adikku yang memberinya makan menjadi kewalahan. Untung langsung diambil alih oleh om Jaka. Siska pun diam dan mau disuapin oleh ayahnya.

 

Malam pun tiba. Sanak famili yang masih tinggal di rumah Om Jaka sebagian sudah pada tidur karena sudah sangat lelah dan ngantuk. Tetapi ibuku masih berbincang-bincang dengan om Jaka, paman-pamanku dan isteri-isteri mereka beserta keluarga yang lain. Sedangkan aku juga ikut nimbrung dengan mereka. Saat berbincang-bincang itulah kembali kami harus menahan kepedihan hati tatkala siska mencari ibunya. Dia mulai gelisah karena sejak sore hari ia tidak melihat ibunya. Hatinya mungkin mulai bertanya-tanya kenapa ibunya tidak ada. Padahal sebelum ia tidur biasanya ibunya terlebih dahulu  membuatkan susu dan menemaninya tidur.

 

“Ayah, ibu enna ?” tanyanya dengan bahasa yang belum sempurna. Menanyakan ibunya. Kamipun terdiam dan om Jaka kembali menangis seraya memeluk anaknya itu dengan hati yang pedih.

 

18 June 2003

Ditulis dalam Kumpulan 2003 | Bertanda: | Tinggalkan sebuah Komentar »

DAN PREMAN ITU PUN INGIN MENJADI GUBERNUR

Posted by kampungsotul pada 3 September, 2008

 

 

Keas baru saja menanda tangani kontrak kerja sama dengan seorang investor dari negara tetangga. Mereka berjabat tangan di iringi tepuk tangan para kolega yang diundang pada acara tersebut. Acara pun dilanjutkan dengan makan bersama. Aneka masakan yang tersedia sepertinya lezat dan menggugah selera. Semua orang kelihatan gembira. Mereka berbincang-bincang satu dengan yang lain. Ada yang terlihat santai dengan tawa dan canda disela-sela perbincangan mereka, ada juga yang kelihatan begitu serius.

           

“Saya optimis bisnis kita ini akan maju dan mendatangkan keuntungan besar” Keas menyampaikan rasa optimisnya kepada rekan bisnisnya Datuk Moktar yang berasal dari Singapura.

           

“Ya, tentu saja. Laba dua kali lipat akan kita peroleh. Keuntungan dari pembuangan limbah dan keuntungan dari penjualan pupuk. Tinggal di kemas dan diberi label dengan baik.” jawab Datuk Moktar.  “Tapi itu kalau semua urusan-urusan legalisasi eksport-inport juga berjalan dengan baik.” Lanjutnya.

 

“Datuk jangan kwatir  soal perizinan dan surat-surat lainnya, semua bisa di atur. Selagi mata orang masih hijau liat  duit, maka urusan-urusan itu akan gampang.”

 

“Ya, saya percaya datuk Keas bisa mengaturnya dengan baik..”

 

Tak jauh dari Keas, seorang pengawal Keas menerima telepon dari seseorang. Ia tampak serius menjawab telepon sambil tetap mengawasi sang boss. Sepertinya ada persoalan penting yang terjadi disana. Max sang pengawal mendekati Keas hendak membisikkan masalah yang tadi dia bicarakan di telepon. Keas sedikit tersentak, ketika Max yang gagah ini membisikkan sesuatu kepadanya. Namun cepat-cepat ia menguasai diri mengingat ia sekarang sedang berada dalam acara khusus dimana ada investor dan para kolega dan orang-orang penting lainnya disitu. Keas pun berusaha tersenyum walaupun dengan senyum yang dipaksakan.

           

Keas memang tergolong seorang pengusaha yang sukses. Ia telah memiliki beberapa perusahaan yang cukup besar. Walaupun beberapa usaha yang dimilikinya termasuk ilegal karena bertentangan dengan hukum dan norma masyarakat. Tempat perjudian dan barak prostitusi adalah beberapa diantaranya. Namun usaha-usaha ilegal inilah yang menghantarkannya menjadi pengusaha sukses seperti sekarang ini. Usaha ilegal bukan berarti tidak aman. Buktinya usaha Keas ini lancar-lancar saja.

           

Acara makan sudah selesai.  Sebentar lagi acara hiburan akan digelar. Namun Keas dan Datuk Moktar sudah sepakat akan pulang terlebih dahulu, mengingat kesibukan masing-masing. Lagi pula Datuk Moktar harus kembali ke negaranya sore ini.

Cepat-cepat Keas  meraih handphone Max. Sambil berjalan ke arah mercynya, ia menekan nomor-nomor di hpnya.

           

“Jonny, ada apa ?” Tanya Keas penasaran kepada orang yang dihubunginya. Dengan seksama ia mendengar Jonny berbicara diseberang.

           

 “Di barak Melati ada oknum yang meminta uang keamanan, boss. ” Jawab Jonny.

“Sepertinya dia orang baru dan lumayan nekad, boss, soalnya saya sudah beritahu sama dia tentang sistem keamanan kita disini, tapi ia ngotot mau ketemu dengan boss selaku pemilik tempat ini.” Lanjut Jonny.

 

Mimik wajahnya berubah, ia mengernyitkan dahinya. Kumisnya yang tebal semakin memberikan gambaran sangar pada wajahnya.

 

“Okey, kalau begitu suruh aja dia datang besok siang jam 11.00, saya akan bertemu dia disana. Dan jangan lupa kamu tanya namanya lalu  beritahu saya”  Keas mengakhiri pembicaraannya dengan Jonny dengan perasaan sedikit kesal.

           

“Ada apa sebenarnya, boss? Tanya Max..

           

“Ada orang yang kurang ajar, dia meminta uang keamanan di barak yang diawasi Jonny. Jonny sudah beri penjelasan tentang sistem keamanan kita, tapi katanya ia tidak perduli”. “It’s ok, biar saya urus sendiri. Mungkin dia orang baru jadi belum tahu saya”

           

Mengherankan memang, kalau ada oknum yang belum mengenal Keas. Selain pengusaha ternama, ia juga seorang anggota legislative di daerahnya. Ia terlibat di sebuah partai besar dan beberapa LSM yang di dirikannya.  Bahkan tak jarang ia muncul di koran-koran daerah, baik itu dalam kapasitasnya sebagai pengusaha, legislative maupun sebagai  orang LSM menjadikan ia dikenal banyak orang. Dari orang besar sampai orang kecil, dari wong cilik sampai wong licik mengenal dia. Hanya saja wong cilik mengenal dia sebagai sosok pribadi yang baik dan yang membela orang-orang kecil dan orang yang terlantar sedang wong licik mengenal dia sebagai  sosok pribadi yang sama dengan mereka, licik.

 

***

           

Pukul 11.00 siang. Seperti yang telah dijanjikan oleh Keas kepada oknum itu, ia sudah berada disana sejak lima belas menit sebelumnya. Rokok yang di apit dua jarinya merupakan batang ke 5 semenjak ia tiba di sana. Tentu saja banyaknya batang rokok yang telah di sulutnya bukan karena ia gugup menunggu oknum yang dimaksud, melainkan karena ia memang seorang perokok berat.

           

Setengah jam kemudian  berlalu, namun orang yang di tunggu-tunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya yang pesek. Sedang hidung Keas yang agak mancung sesekali kembang kempis  mengikuti irama giginya yang bergesekan dan kumisnya yang menari . Tampak sekali ada kekesalan dalam dirinya.

           

 “Kamu katakan jam berapa dia datang ?“ Tanya Keas pada Jonny.

           

 “Tentu saja seperti yang boss katakan jam 11.00 siang”

           

“ T’rus mana orangnya ?”

           

Jonny tidak menjawab. Ia hanya tertunduk. Ia tahu bahwa pertanyaan itu tidak butuh jawaban. Pertanyaan itu hanya merupakan wujud kekesalan sang boss.

           

“Bisa saja dia tidak berani datang, boss” si Max mencoba memecah keheningan yang terjadi. “Bukankah kemarin boss telah menelopon orang-orang penting  di lingkungan yang diperkirakan tempat si oknum itu bekerja?” lanjutnya.

           

“Ya, bisa jadi begitu, boss.”   Timpal Jonny. “Mungkin atasannya sudah bicara dengan dia”

           

“Ya sudah, ayo Max kita kembali ke kantor” Keas mengajak Max si pengawal  yang merangkap supir itu kembali ke kantornya

 

***

 

Setibanya di kantor, ternyata disana sudah ada tiga orang yang sedang menunggu Keas. Ketika Keas memasuki ruangan lobby ketiga orang itu berdiri dari sofa yang mereka duduki.

           

“Selamat siang, boss” Sapa ketiganya hampir bersamaan.

 

“Ya, selamat siang. Sudah lama menunggu ?”

           

“Belum terlalu lama, boss” Jawab salah seorang dari mereka, orang yang tinggi besar lengkap dengan stelan jas dan dasi.

 

“Kita makan siang dulu atau…”

 

“Saya kira tidak usah, boss. Kami hanya mau melaporkan tugas-tugas yang telah kami jalankan sejauh ini.” Kata orang yang berperawakan agak pendek.

 

“Baiklah, kita ke ruangan saya aja.”

 

Mereka berjalan menuju ruangan Keas. Sebuah ruangan yang cukup besar dan terkesan mewah. Ruangan ini dilengkapi dengan kursi tamu yang bagus, lemari buku dan lapangan kecil untuk latihan memasukkan bola golf. Beberapa lukisan karya pelukis ternama juga menghiasi dinding ruangan ini, sedangkan dua buah patung keramik cina kuno mengapit meja kerjanya.

 

“Jadi bagaimana, semua berjalan dengan baik ?’ Tanya Keas kepada ketiga orang itu setelah dipersilahkan duduk.

 

“Ya, sejauh ini berjalan dengan baik, boss. Sebagai team sukses tentu kami akan berusaha semaksimal mungkin supaya pencalonan boss menjadi gubernur tidak terkendala.” Orang yang tinggi besar itu menjawab Keas.

 

“Kami sudah mempersiapkan jadwal kunjungan boss kerumah sakit, ke penjara, ke panti asuhan dan panti jompo Dan setiap kunjungan itu akan  di beritakan di tiga harian yang berbeda.” Yang perawakannya pendek mengawali laporannya. “Ini adalah salah satu cara untuk terus mempopulerkan bapak kepada masyarakat luas.” Lanjutnya.

 

“Kami juga telah memprogramkan beberapa acara yang melibatkan beberapa LSM, baik itu LSM kita maupun LSM yang cukup dekat dengan kita. Acara itu berupa silaturahmi, syukuran ultah LSM dan bentuk acara lainnya.” Orang ketiga yang agak kurusan tapi berkumis tebal juga memberikan laporannya. “Kami juga sudah menganggarkan dana awal sebesar kira-kira Rp. 10.000.000,- untuk ikut poling calon gubernur di media cetak dan kira-kira Rp. 6.000.000,- untuk poling SMS dukung-mendukung calon gubernur.” Lanjutnya penuh semangat.

 

“Saat ini kita juga sudah mengadakan pendekatan kepada beberapa pengurus teras partai-partai. Pertemuan yang lebih intensif akan kita adakan dengan mereka.” Sambung orang yang berdasi.

 

“Bagus, bagus. Sejauh ini pekerjaan kalian cukup memuaskan.” Puji Keas dengan bangga. “Teruslah bekerja keras. Usaha keras kalian akan menjadi catatan penting bagi saya..” lanjutnya.

 

“Baiklah boss, kalau begitu kami permisi dulu.” Yang pakai stelan jas mengakhiri.

 

“Baik. Selamat bekerja” Keas mengantar mereka sampai ke depan pintu kantornya.

Keas sangat berambisi untuk menjadi gubernur. Jabatannya sebagai seorang anggota legislative daerah sekarang ini belum dapat menjadi kepuasan baginya. Posisi gubernur menjadi incarannya, bahkan di dalam benaknya terbersit keinginan ikut bertarung merebut kursi  presiden di masa yang akan datang.            

 

Keas memang sudah terbilang sukses, baik di bidang usaha maupun di bidang politik. Tapi tidak banyak orang tahu, bahwa Keas memulai karirnya dari bawah. Ia memulai dari seorang preman kampung. Ya, dia memang dulunya seorang preman kampung. Dengan bermodalkan tato dan badannya yang besar, ia sering memalak orang-orang kecil. Mulai dari pedagang kaki lima di pasar tradisional di daerahnya, pedagang ikan keliling, pedagang es keliling bahkan juga sipenjual rokok tentengan di pasar dan pertigaan di palaknya.

           

Kemudian ia pindah kota dan meneruskan karirnya sebagai preman. Dari preman kampung menjadi preman kota. Menjadi preman kota pun Keas masih suka memalak orang-orang kecil. Pedagang bakso keliling mapun pedagang kecil lainnya  Boleh dikata Keas hampir tidak pernah mengeluarkan dana untuk kebutuhan makannya sehari-hari. 

 

Berprofesi sebagai preman kota memang tidak selalu mulus juga. Kadang kala ia bertemu dengan pedagang yang ternyata punya saudara seorang aparat kepolisian atau tentara atau setidaknya punya kenalan dekat dengan seseorang yang cukup disegani. Sehingga si pedagang berani untuk menolak ketika ia dipalak. Tapi kebanyakan orang tidak berani untuk menolak apalagi untuk melawannya. Entah mengapa banyak orang tidak berani melawan, pun tidak berani melapor kepada aparat keamanan. Bisa jadi mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, atau bisa juga karena merasa bahwa penegakan hukum masih berada diantara mimpi dan kenyataan.

 

Bertahun-tahun menjadi preman di kota ternyata memberikan peluang bagus bagi Keas. Semakin lama dia semakin di akui dikalangan preman. Dia mempunyai banyak anak buah. Dia tinggal menerima laporan sekaligus setoran dari anak buahnya. Kegiatan anak buahnya pun tidak lagi sebatas memalak tetapi juga menjadi penjaga keamanan tempat hiburan malam, barak prostitusi dan tempat perjudian. Dia sendiripun akhirnya memiliki barak prostitusi dan tempat perjudian.

 

Keberhasilannya di bidang premanisme, usaha barak dan tempat perjudian inilah  yang menjadi modal awal bagi Keas mendirikan usaha-usaha resmi. Ada perusahaan supplier, developer, kontraktor dan terakhir  perusahaan di bidang ekspor-inpor yang bekerja sama dengan investor asing.

 

Keas memang sangat pandai mengambil setiap kesempatan. Ketika undang-undang telah memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk membentuk partai dan berorganisasi, banyak partai baru yang muncul. Ia pun menjadi ketua wilayah salah satu partai baru itu. Partai baru ini kemudian menjadi salah satu partai besar. Selain memasuki partai, Keas juga mendirikan beberapa LSM yang umumnya berslogankan sosial.

 

Keas pun sadar bahwa masyarakat pada waktu itu masih bodoh. Keterkungkungan masyarakat akibat ulah pemerintah yang lama menjadikan masyarakat tidak melek politik maupun hukum. Dan kebodohan masyarakat itu pun ia manfaatkan. Dengan bermodal janji-janji muluk pada saat kampanye, uang yang banyak yang disebar lewat team sukses menghantarkan Keas menjadi anggota dewan legislative daerah hingga mamasuki dua periode.

 

Kini Keas ingin menjadi gubernur. Team sukses telah di bentuk bahkan telah bekerja. Dana yang sangat besar pun telah disediakan. Ya, dan preman itu pun ingin menjadi gubernur.   

 

(Menjelang Pemilihan Gubernur  2005)

Lomser Hutabalian

 

 

 

 

 

Ditulis dalam kumpulan 2005 | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.